'Aisyiyah

Gerakan Perempuan Muslim Berkemajuan

Berita
Temu Pengusaha Pra Tanwir I Aisyiyah
18 Januari 2018 10:15 WIB | dibaca 281

Temu Pengusaha Pra Tanwir I Aisyiyah

 

 

Surabaya - “Kita harus bisa mengurusi diri sendiri kalau ingin usaha yang kita jalankan berhasil.” Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Aisyiyah Latifah Iskandar pada Temu Pengusaha dalam kegiatan Pra Tanwir I Aisyiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis, (18/1/18).

Di hadapan 300 pengusaha Aisyiyah dari berbagai daerah di Indonesia, Latifah menekankan pentingnya penguasa mentas ngurusi urusannya sendiri.

“Dengan bisa mengurusi diri sendiri maka akan terampil dan berkesempatan mengembangkan usahanya,” ujar

wanita asli Yogyakarta itu sambil berpesan pentingnya para pimpinan atau majelis memahami kultur ekonomi dan membangunya di daerah masing-masing.

Dalam membangun kultur ekonomi tidak boleh meninggalkan karakteristik Aisyiyah, sebagai citra ke-Aisyiyah-an.

“Aisyiyah adalah gerakan Islam berkemajuan. Maju dalam berfikir, bersikap, dan bergerak. Kalau tidak berkemajuan berarti bukan Muhammadiyah,” tuturnya.

Perempuan di Aisyiyah, lanjutnya, adalah perempuan berkemajuan. “Dan yang tidak boleh lupa Aisyiyah berbasis akar rumput. Artinya Aisyiyah itu tumbuh, berkembang, dan besar dari bawah. Ora ujug-ujug besar dari atas,” kata dia.

Menurutnya, Aisyiyah juga memiliki karakter praksis amal usaha, yaitu selalu membangun dan mengembangkan amal usaha sebagai keberdayaan ekonomi untuk menopang gerak dakwah. “Walau begitu kita harus tetap berwawasan kebangsaan dan membawa manfaat untuk umat,” pesannya.

Dari data statistik, tambahnya, pengusaha di Jawa Timur menduduki peringkat terbesar di Indonesia, “Jatim gak bakal kesalip oleh daerah lain,” kata Latifah disambut tepuk tangan peserta .

Dia mengungkapkan, “Kendala pengembangan bisnis bagi pengusaha Aisyiyah adalah peran kita hanya menguasai 20 persen saja dari 80 persen peluang usaha. Termasuk bagaimana memasarkan produk, dan berjejaring sosial guna mengmbangkan usaha.”

Intinya, kata dia, kalau kita tidak melek mata terhadap kemajuan zaman dengan terampil dan terus mengasah diri dalam mengurus urusan sendiri, makan akan tertinggal dari yang lain.

Semangat berwirausaha para pengusaha Aisyiyah

Temu Pengusaha Pra Tanwir I Aisyiyah

 

 

Surabaya - “Kita harus bisa mengurusi diri sendiri kalau ingin usaha yang kita jalankan berhasil.” Pernyataan itu disampaikan Wakil Ketua Majelis Ekonomi Pimpinan Pusat Aisyiyah Latifah Iskandar pada Temu Pengusaha dalam kegiatan Pra Tanwir I Aisyiyah di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Kamis, (18/1/18).

Di hadapan 300 pengusaha Aisyiyah dari berbagai daerah di Indonesia, Latifah menekankan pentingnya penguasa mentas ngurusi urusannya sendiri.

“Dengan bisa mengurusi diri sendiri maka akan terampil dan berkesempatan mengembangkan usahanya,” ujar

wanita asli Yogyakarta itu sambil berpesan pentingnya para pimpinan atau majelis memahami kultur ekonomi dan membangunya di daerah masing-masing.

Dalam membangun kultur ekonomi tidak boleh meninggalkan karakteristik Aisyiyah, sebagai citra ke-Aisyiyah-an.

“Aisyiyah adalah gerakan Islam berkemajuan. Maju dalam berfikir, bersikap, dan bergerak. Kalau tidak berkemajuan berarti bukan Muhammadiyah,” tuturnya.

Perempuan di Aisyiyah, lanjutnya, adalah perempuan berkemajuan. “Dan yang tidak boleh lupa Aisyiyah berbasis akar rumput. Artinya Aisyiyah itu tumbuh, berkembang, dan besar dari bawah. Ora ujug-ujug besar dari atas,” kata dia.

Menurutnya, Aisyiyah juga memiliki karakter praksis amal usaha, yaitu selalu membangun dan mengembangkan amal usaha sebagai keberdayaan ekonomi untuk menopang gerak dakwah. “Walau begitu kita harus tetap berwawasan kebangsaan dan membawa manfaat untuk umat,” pesannya.

Dari data statistik, tambahnya, pengusaha di Jawa Timur menduduki peringkat terbesar di Indonesia, “Jatim gak bakal kesalip oleh daerah lain,” kata Latifah disambut tepuk tangan peserta .

Dia mengungkapkan, “Kendala pengembangan bisnis bagi pengusaha Aisyiyah adalah peran kita hanya menguasai 20 persen saja dari 80 persen peluang usaha. Termasuk bagaimana memasarkan produk, dan berjejaring sosial guna mengmbangkan usaha.”

Intinya, kata dia, kalau kita tidak melek mata terhadap kemajuan zaman dengan terampil dan terus mengasah diri dalam mengurus urusan sendiri, makan akan tertinggal dari yang lain.

Semangat berwirausaha para pengusaha Aisyiyah

Shared Post:
Berita Terbaru
Berita Terkomentari